Sejarah

InWOCNA-Recovered

Di Indonesia, pelayanan yang diberikan oleh enterostomal therapy dimulai tahun 1993 di RS Dr. Soetomo, Surabaya oleh Sumiatun, yang mendapat sertifikat Enterostomal Therapy Nurse (ETN) dari training di Australia dan bekerja sebagai provider dalam perawatan stoma.
Pada tahun 1994, Dyah Setyorini, SKp mengikuti program pendidikan enterostoma therapy di Singapura, ia bekerja di ruang bedah rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Kemudian pada awal tahun 1995, Dyah bersama dengan Convatec (sponsor produk ostomi) atas dukungan Prof. Dr. Sjamsuhidayat dan dr. Aryono Pusponegoro, mengadakan pelatihan singkat selama tiga hari mengenai perawatan stoma yang diadakan di RSCM Jakarta dan dihadiri oleh wakil dari organisasi dunia Enterostomal Therapist (WCET).
Sejak pelatihan tersebut dan kunjungan dari organisasi dunia yang melihat kondisi ostomate di Indonesia belum tertangani dengan baik, pada tahun 1995, Widasari SG, SKp dikirim untuk menyelesaikan program Enterostomal Therapy Nurse di Hongkong. Widasari bekerja di ruang perawatan onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.
Perkembangan spesialisasi perawatan Enterostomal Therapist pada awalnya mendapat kendala, terutama terhadap perubahan pandangan dalam perawatan luka dan stoma. Di Indonesia sendiri keperawatan sedang mengembangkan diri sebagai menjadi profesi. Pro dan kontra di lalui dengan semangat dan senang hati serta terus melakukan komunikasi bersama antara RSUP dr. Soetomo, RSUP Cipto Mangunkusumo dan RS Kanker “Dharmais”.
Pada tahun 1997 RS Kanker “Dharmais” kembali mengirim Ns. Christina Asmi, SKep dan Ns. Iik Lolita, SKep untuk menyelesaikan program pendidikan ETN di Kuala Lumpur Malaysia.
Setelah itu ET nurse berkembang pesat dengan mengikuti kegiatan berbagai even dunia seperti Kongres, Registrasi pada WCET, APETNA dan lain sebagainya. Pada tanggal 10 Oktober 2000, bersama dengan RS Kanker “Dharmais”, RSUP dr. Cipto Mangunkusuma, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan BBraun (sponsor produk ostomi), kelompok ETN Indonesia mengukuhkan perhimpunan perawat Enterostomal Therapist dengan nama Indonesian Council of Enterostomal Therapist (ICET) yang kemudian berganti nama menjadi InETNA tahun 2001.

depan2

Tahun 2001 Indonesia kembali memberangkatkan perawat untuk mengikuti program pendidikan enterostomal therapy nurse di Kuala Lumpur Malaysia yaitu Hardian dari RS Kanker “Dharmais” Jakarta dan Nunung Nurhayati dari RS Hasan Sadikin Bandung.
InETNA dengan support dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), World Council of Enterostomal Therapist ( WCET) dan Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia serta rumah sakit besar di Indonesia yaitu: RS Kanker Dharmais, RSUP Hasan Sadikin, RSUPN dr. Ciptomangunkusumo, RSUP Fatmawati, RSAB Harapan Kita dan Yayasan Kanker Indonesia telah menghasilkan tenaga professional dari kursus tentang enterostomal therapy dengan sertifikasi internasional dari WCET pada tahun 2007. Kursus ini dikenal sebagai Indonesian Enterostomal Therapy Nurse Education Program ( InETNEP) dengan meluluskan 21 perawat ETN / WOCN. Kemudian di lanjutkan InETNEP 2 dan 3, sehingga sampai saat ini jumlah ET nurse di Indonesia berjumlah 41 orang yang tersebar di beberapa kota/kab di Indonesia.